Sabtu, 31 Juli 2010

BUDI (DAMAGED) : PUNK SEBAGAI JALAN HIDUP

“Menjadi punker itu bukan gaya-gayaan atau sok-sokan, Mas. Ini jalan hidup, ada tantangannya, ya ada resikonya,” ujar seorang pria berambut ala mohawk bercat warna kuning ini.


Di ujung sepasang daun telinga pria ini melingkar empat anting-anting warna keperak-perakan. Tampak logam seukuran jempol tangan orang dewasa ini berkilauan indah memantulkan terpaan sang surya. Melengkapi deretan tiga tindik yang menembus ujung bawah bibir yang tampak memerah.

Budi, demikian nama panggilan pria ini, adalah salah seorang anggota punk yang kini mulai tersebar di Makasar. Penampilannya yang “tak lazim” itu memang nampak aneh bagi sejumlah orang. Namun bagi Budi, menjadi punker memang bukan sekadar bergaya. Anting-anting, peniti, tampon dan rantai adalah bagian dari atribut perlawanan terhadap dunia fasyion. Lewat busana punk bicara dan memaklumatkan perlawanan. Demikian kata-kata indah penyemangat kaum punker yang dikutip dari Umberto Eco, seorang ahli semiotika dan novelis terkemuka berkebangsaan Italia ini.

Bagi pria yang memasuki dunia punker sejak usia belasan tahun ini, punk bukan sekadar gaya hidup. Punk adalah sebuah jalan hidup lain yang berbeda dengan jalan-jalan hidup yang dipilih setiap orang. Sebagai jalan hidup, menurut putra Arman Tenriano (Alm.) dan ibunda Khu Kiao Giok ini, menjadi seorang punker tentu “ada tantangan dan resikonya”.

Tantangan pertama dilalui Budi ketika sang ibu menderita sok melihat kali pertama anaknya berdandanan ala punker. Teriakan kemarahan sering ia dengar, meski seiring dengan waktu sang ibu menerima pilihan hidup putranya tercinta ini.

“Mulanya saya sembunyikan identitas. Tapi akhirnya saya sadar kalau toh punk adalah jalan hidup, orang tua saya memang layak tahu,” ujar Budi yang kerap menghindari kemarahan ibunya usai pulang sekolah.

Budi pun berniat menepis anggapan banyak orang kalau dunia punk tidak berpengharapan. Punk yang nyaris diidentikkan dengan hura-hura, bahkan biang kekacauan. Ia hendak memperlihatkan, punk menawarkan pilihan hidup alternatif yang layak dihargai dan diapresiasi. Tentu saja di luar gaya hidup yang penuh kepalsuan dan kungkungan industri kapitalisme.

Sebuah grup band bernama Dead Bastard beraliran punk akhirnya dibentuk. Ia pun mulai merilis album yang diproduksinya sendiri dan didistribusikan langsung dari tangan ke tangan antar komunitas punk.

“Kita tidak mau masuk dalam rengkuhan gurita kapital,” tandas alumni SMA Frater ini.

Usianya yang memasuki 30 tahun, membuat Budi harus berpikir untuk segera menikah. Bertemulah ia dengan sosok cantik menawan yang dicintainya. Uga, anak seorang tokoh adat Bugis-Makasar. Meski pada awalnya ditolak oleh ayah Uga, toh tekadnya yang keras dan pantang menyerah itu mampu meluluhkan hati sang calon mertua.

“Saya bertekad ces… waktu itu, kalau memang saya suka kenapa harus menyerah di tengah jalan,” ujar Budi. Maka terjadilah perkawinan punk ala adat Bugis itu.

Kini, sehari-hari, Budi dan teman-temannya membuka usaha tatto dan piercing di Mall Diamod, Panakkukang. Ia bertekad menunjukkan, komunitas punker adalah anak jaman yang kreatif. Bukan biang hura-hura apalagi kekacauan! [Liputan: Syamsurijal Adhan]

Dimuat di Harian Fajar, Rabu, 28 Februari 2007
Oleh: Mh. Nurul Huda (co) dan Syamsurijal Adhan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar