Sabtu, 31 Juli 2010

Subkultur PUNK Makassar

Kebanyakan orang memandang sebelah mata. Berbagai label miring seperti
biang hiruk pikuk dan kekacauan pun kerap melekat pada diri mereka.
Tapi komunitas punk yang tersebar di kota Makasar ini tetap bergeming.
Kata mereka, punk adalah simbol perlawanan kaum marginal.

Tak sulit rasanya mengenali kaum punker ini. Model kepala berambut jambul
ala Mohawk dengan cat warna-warni, kadang dicukur licin ala skin head dengan tatto menghiasi kepala. Bukan hanya itu, wajah dan kepala mereka dihiasi dengan pearcing, tindik dan flug
(sejenis tindik tapi lubangnya lebih besar), dan kulit muka, telinga,
serta bibir mereka dipenuhi deretan peniti. Penampilan khas inipun
masih dilengkapi dengan aksesoris rantai sebesar jari di leher, celana
jeans belel, dompet dengan rantai panjang menjuntai, dan tentu saja
tatto yang menempel di sekujur tubuh mereka.

Di kota ini, scene punk,demikian komunitas punk Makasar ini menyebut dirinya, hidup berkelompok
di sejumlah tempat. Seperti di Sungai Saddang, Losari, Maccini,
Karuwisi, dan Ablam. Sebagian di Sungguminasa, Sidrap, Soppeng,
Pare-pare dan beberapa tempat lain di luar Makassar. Mereka memang
berbeda dari komunitas lain, karena disatukan oleh sebuah kultur yang
berbeda pula. Kelompok ini memiliki semacam ritual, kebiasaan, kegiatan
rutin atau pertunjukan bersama antar sesama punk yang membuat mereka
layak disebut sebagai sebuah subkultur. Di Makasar para punker menyebut
segala aktifitasnya ini dengan sebutan “Underground No Control-Makasar”, dan “Underground Karung Beras” bagi para punker di Sidrap, Soppeng dan Pare-pare.

Persepsi keliru

Bagi masyarakat Makasar, komunitas punk sudah
tak asing lagi. Namun sayangnya, persepsi tentang punk rupanya banyak
diwarnai oleh anggapan keliru. Punk hanya dikenal dari warna musiknya
yang keras, dari Sex Pistols, The Clash, hingga The Worst, dengan beberapa lagu mereka yang terdengar sinis seperti If You don’t Want Fuck Me, Fuck Of atau I Wanna be Sick on You.

Coba simak pernyataan salah seorang dosen di sebuah perguruan tinggi Islam
di Makasar ini. “Penampilan mereka hanya sekedar gaya, temporer saja,”
ujar Muh Ibnu, sang dosen. Beberapa koleganya juga menandaskan “punk
hanya gaya anak muda, mengikuti perkembangan zaman, seperti kami yang
dulu menyukai celana boggie atau cut bray”.

Dalam kehidupan sehari-hari persepsi keliru terhadap komunitas punk ini
seringkali juga dilengkapi dengan pandangan tak mengenakkan. Penampilan
mereka yang apa adanya, berbeda dan bahkan bertentangan dengan
kecenderungan umum masyarakat kota yang teratur tapi monoton, tertib
tapi seragam, stylis dan macho tapi dikendalikan industri fashion, gaya
hidup modern tapi dituntun etika kapitalisme, dan polesan tubuh yang
memesona tapi penuh topeng kepalsuan; membuat keberbedaan punk dinilai
sebagai pelanggaran norma, pengacau, atau biang keributan. Bukan
sekadar “yang lain”, tak jarang keberadaan mereka diawasi aparat
keamanan lantara dicurigai berpotensi kriminal.

“Disini kalau anak-anak punker lagi ramai, sering datang aparat berpakaian
sipil, nanya-nanya ada kegiatan apa, kok ramai-ramai,” tutur Uga yang
melihat dari perawakan dan sikap orang itu tak diragukan menyerupai
petugas intel.

Kreatifitas

Persepsi miring dan cenderung negatif ini jelas tak seluruhnya benar, apalagi
bila kita menyelami kehidupan dan prinsip-prinsip hidup yang diyakini
komunitas punk. Anggapan Lomba Sultan yang dekan fakultas syariah IAIN
Makasar itu, misalnya, bahwa punk lahir dari keluarga yang broken-home, langsung dipatahkan oleh para punker sendiri.

Sebut saja Adi (nama samaran), misalnya. Seorang anak anggota dewan di kota
ini yang tumbuh besar dari keluarga cukup baik. Ia bergabung dengan
komunitas punker lantaran ia bisa bebas berkreasi dan memperoleh
penghargaan lebih dari teman-temannya. “Di sini saya bisa mengembangkan
kemampuan menggambar saya, kalau bagus diambil jadi desain baju,”
ujarnya.

Bukan hanya sosok Adi, banyak para punker justeru berasal dari keluarga
harmonis. Dekat dengan orang-orang tercinta. Bagi mereka menjadi punker
menjadi semacam pilihan. Sebuah pilihan untuk berbeda, kadang melawan
arus. Agar hidup bermakna dan lebih kaya.

Kreatifitas dan kejujuran. Prinsip inilah rupanya yang dikembangkan oleh para
punker Makasar. Adi dan para punker lain juga berupaya mengembangkan
kemampuan, berolah kreatifitas. Dari mendesain baju dan kaos, sampai
menekuni olah vokal dan jenis musik dalam bermacam-macam grup band.
Tercatat ada puluhan band yang kini dikelola oleh komunitas punker.
Seperti band The Hotdogs, Sex Punk, Permen Karet, The Hendriks,Pemuda Garis Depan,O.P.S.G
dan band-band “underground” lainnya.

Karena itu amatlah keliru bila mengelompokkan kaum punker ini ke dalam
kelompok anak-anak jalanan, pemalak, biang kekacauan dan bikin
huru-hara. Mereka juga bukan anak muda yang sekadar gaya-gayaan atau
ikut-ikutan.

Kultur subversi

Sebaliknya, ada kultur yang dibangun atas dasar kesadaran. Busana dan gaya hidup
punk bukan hasil rayuan fashion yang memesona, tapi semacam subversi
dan ejekan terhadap dunia fashion sendiri. Busana mereka adalah “busana
konfrontasi”, dalam istilah Vivien Westwood. Dengan busana, kaum punker
berteriak tentang sinisme dan perlawanan.

“Kita mau bilang, fashion itu dunia yang diciptakan. Kita bisa menerima atau menolak,” ujar Budi.

Sebenarnya para punkers inipun menyadari gaya mereka telah dikomodifikasi. Namun
kata Killy, seorang punker yang sahabat dekat Budi, hal itu justru
menuntut kreatifitas untuk terus menerus memproduksi gaya baru. “Karena
tindik dan piercing sudah jadi trand setter, kita bikin lagi
belah lidah, mas. Lebih ekstrim,” kata Killy yang seolah hendak
menandaskan peran dirinya sebagai produsen budaya.

Ya, sebuah budaya, kultur. Tepatnya, subkultur punk! Sebuah kelompok yang
amat berbeda dengan gejala lain di perkotaan. Bukan sebuah gaya hidup
yang lahir layaknya hobby. Bukan pula kelompok yang antisosial,
individualistik, dan impersonal yang menggejala di kota-kota.
Sebaliknya, mereka justru menghalangi laju komodifikasi dan
industrialisasi yang membuat manusia teralienasi dari diri dan tubuhnya
sendiri. Lirik-lirik lagu, seperti Aparat Keparat, Hate Government, Merdeka tapi Tak Nyata dari kelompok musik Bugs dan lainnya, jelas terdengar mewakili suara perlawanan ini.

Berbeda dengan karakter masyarakat kota, para punker ini justru aktif bergiat dalam bidang sosial.

Budi,salah seorang punker, misalnya, menuturkan setiap bulan Ramadan
kelompoknya melakukan buka puasa bersama dengan kalangan lain yang tak
mampu dan anak-anak jalanan. Hebatnya lagi, para punker ini pun
menggelar pendidikan alternatif. “Sungai Saddang Street School”
namanya, sekolah yang diperuntukkan bagi anak jalanan di sekitar Sungai
Saddang.

Demikianlah kultur punk, berlawanan dengan asumsi umum, adalah simbol perlawanan,
kreatifitas sekaligus kepedulian. Slogan “No Rule, No God, No Master”
menjadi bagian ekspresi kultur mereka yang subversif atas kultur
komodifikasi dan industrial kota yang kaku dan mengalienasi.

Sayangnya, keluar dari mainstream selalu dipandang aneh, kelainan sosial, kegilaan, bahkan biang kekacauan..




Oleh: Mh. Nurul Huda (co) dan Syamsurijal Adhan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar